New Bos pt. 1

well, ngga kerasa hampir 1 tahun saya berkecimpung di bidang yang satu ini, berawal dari rasa frustasi kareana harus menunggu suatu hal yang ga pasti, akhirnya seorang sahabat memberitahukan sebuah pekerjaan 'bujangan' yang memang cukup saya kuasai...

Setelah sekitar 6 bulan 'dihabitatkan' di daerah citaliktik dengan pengalaman yang luar biasa, ternyata semua berakhir dengan pemindahan kekuasaan.

Yah tepatnya tanggal oktober 28, semua sarana alias modal tetap dikemas selama sekitar 1 malam penuh, bersama seorang ahli, saya belajar untuk membongkar semua muatan yang ada, membersihkan, atau mungkin lebih tepatnya menelanjangi semua komponen yang ada hingga baut-baut terkecil Dengan vacuum dan kuas ditangan, kumpulan debu beterbangan memenuhi ruangan kosong tanpa sanggup dihilangkan oleh tiupan kipas gantung yang mulai mati. 13 buah tak mungkin untuk saya bereskan sendiri. Playstation2 menjadi sarana istirahat yang cukup menghibur yang bisa saya mainkan malam itu. Setelah bosan dengan berbagai menu yang disajikan PS2, saya kembali menelanjangi bagian tubuh pc yang penuh dengan kabel dan baut, hingga akhirnya pc terakhir selesai saya telanjangi dan kemas kembali seperti keadaan yang masih baru...

Tiba esok hari, sebuah panggilan telfon berdering dan langsung bertanya 'san, gimana? udah siap diangkut?', spontan saya menjawab 'mangga kantun nyandak..'. Dan tak lama berselang, sepasang tangan terlihat dari bawah rolling door berusaha untuk membuka dengan sekuat tenaga, tapi apa daya, kunci gembok ukuran raksasa masih menggantung disela-sela lubang rollingdoor. 'Bentar Pa, saya buka dulu'.. rolling door pun diangkat dengan suara berdecit yang cukup keras, seperti menjadi pembuka jalan untuk para algojo segera mengeksekusi dan menyelesaikan tugas mereka.

Kosong, luas dan penuh debu, itulah yang tersisa dari ruangan yang sempat penuh sesak dengan berbagai peralatan canggih yang serba bisa.

Lalu Lalang Yang Nyata

Kehidupan bagaikan roda yang terus berputar. Kadang di atas dan kadang di bawah. Tapi satu hal yang saya benci dari semua itu adalah saya tak pernah tahu kapan ketika saya di atas dan kapan ketika saya di bawah. Semua karena saya terlalu naif untuk mengakui keadaan saya sendiri, sehingga saya lupa bahkan tidak tau apa-apa......

Tapi satu hal yang ingin saya sampaikan disini adalah
Makan teratur dengan lauk pauk yang sesuai dengan yang dibutuhkan oleh sel-sel dalam tubuh adalah hal sederhana yang sangat penting...
Makan, 3 kali sehari sebene

Kesederhanaan Diri

tertanggal 11 oktober 2011. Saya benar-benar bisa merasakan apa yang namanya senang, sedih, marah, dan malu.....

Aktivitas biasa yang saya lakukan sebagai seorang penunggu uang datang adalah menunggu tiap orang yang masuk untuk kembali keluar dengan menyetor uang ke saya. Tapi yang paling menyenangkan dari semua itu adalah saya bisa mendapatkan berbagai macam teman dimulai dari usia muda, tua, laki-laki, perempuan, cantik, relatif, dan lain sebagainya. Dan hari ini saya bertemu untuk kesekian kalinya dengan seorang anak SMP yang berkelakuan seolah dia sedang berada di sebuah panggung miliknya sendiri, dia bertingkah aneh, nyanyi-nyanyi, nari-nari, bahkan memperagakan gerakan basket ketika dia sedang berlatih, padahal keadaan di ruangan sedang cukup ramai, apa lagi ketika dia menggoda perempuan 'cantik' (relatif), dengan kata-kata sindiran yang kurang sopan, tapi semuanya itu membuat saya bisa kembali tertawa terbahak-bahak. Meskipun hitam, Gendut, dan bermata sipit dia terus saja melakukan semua hal itu berulang-ulang tanpa rasa malu sedikitpun. Tapi semua berubah seketika setelah Sang Mpunya tempat memanggil saya, dikatakan bahwa tempat yang saya 'pegang' itu akan dijual atau lebih tepatnya sold out! mungkin jika hanya sebatas itu saya tidak akan merasa terlalu bersedih, toh saya bukan siapa-siapa. Tapi yang jadi masalah adalah janji yang telah terucap oleh 'beliau' mengenai apa yang akan terjadi kedepan tidak sama dengan yang terjadi sekarang padahal saya bekerja hanya,cuma,baru 6 hari doang..saya merasa seperti keledai bodoh yang yang terus diberi beban tapi hanya bisa diam. Sampai saat saya menulis ini pun, perasaan itu masih kuat terasa..
Hari menjelang malam, saat tiba waktu makan malam semua orang yang bekerja pergi ke dapur untuk mengisi isi perut mereka masing-masing. Berhubung saya belum merasa lapar dan memang saya jarang makan pada saat sore sekitar jam 6, jadi saya hanya bisa bilang 'silakan duluan nanti saya nyusul..'. melihat jam sudah menunjuk pukul 8, perut sudah mulai meminta untuk segera diisi. Berangkatlah saya ke dapur, melewati pekerja lain yang sedang duduk santai sambil nonton Indonesia vs Qatar di TV. Entah apa yang ingin saya katakan pada waktu itu ketika melihat nasi habis dan lauk pauk pun tak bersisa, padahal saya sudah mencuci dan mengambil piring dan sendok. Saya tak terlalu ambil pusing masalah itu karena saya menganggap saya yang salah karena tidak mengenal sifat pekerja yang terbilang rakus. Tapi yang membuat saya sangat kesal adalah ketika pekerja tertua yang sedang duduk santai sambil meminum kopi bilang 'makanya kalo makan jangan ditunda-tunda makanya diabisin...' terbersit untuk mengatakan 'anjng tong loba ngomong dia teh pang kolotna kuduna ngarti, bisa ngabagi, jeung tong loba ngomong, mun enya ge rek ngomong tinggali heula kaayaan batur,,' Tapi apa mau dikata saya hanya seorang pengecut mengutamakan kesalahan pribadi untuk diperbaiki sendiri dibanding menambah masalah yang mungkin bisa terjadi..

Perut masih berteriak untuk diisi, akhirnya rumah makan khas sadang pun jadi tujuan untuk menjinakkan perut yang meremas-remas dirinya sendiri, karena memang yang letaknya dekat dan saya pun tau siapa pemiliknya...
Setelah masalah perut terselesaikan, saya pun berusaha untuk menenangkan diri dari apa yang telah terjadi selama satu hari terakhir dengan sedikit bersapu-sapu ria. Tapi ternyata semua belum berakhir, yaitu ketika seorang pekerja lain yang masuk ke tempat saya 'mencari sesuap nasi' dengan menggunakan sandal kotor, Entah bagaimana yang kalian bayangkan, tapi yang pasti saya sangat bingung, bagaimana seorang manusia berakal dan berperasaan bisa melakukan semua itu atau lebih jelasnya sengaja mengotori tempat yang telah dan sedang saya bersihkan..

Saya sangat sangat marah,sangat sangat marah, tapi bukan pada setiap orang yang terlibat di kisah tadi, saya lebih marah pada diri saya sendiri yang selalu merasa bingung menentukan pilihan mana yang benar dan mana yang salah.

Pada akhirnya malamlah yang menyadarkan saya mengenai pentingnya membaca situasi untuk diri sendiri dan memahami keadaan orang lain yang sangat mungkin bersinggungan dengan apa yang kita harapkan..
Sabar tidak mungkin tidak terbatas tapi bukan berarti kita tak bisa melewati amarah dengan cara yang terbaik untuk semua pihak....

hari yang sempurna untuk sebuah pelajaran perjalanan hidup,,
"Keluar dari Comfort Zone.."..itulah yang dikatakan oleh seorang sahabat. Sangat inspratif